Pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman adalah tiga komponen penting yang membentuk kompetensi seseorang dalam bidang apa pun. Sayangnya, saat ini istilah-istilah tersebut digunakan secara bergatian atau interchangeably, namun memiliki arti yang sangat berbeda.
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sejumlah banyak tulisan, artikel, dan laporan tentang bagaimana AI dan otomasi akan membentuk masa depan pekerjaan. Tergantung dengan perspektif atau agenda para penulisnya, tulisan-tulisan tersebut biasanya mengarah pada salah satu dari dua cara berikut ini: apakah teknologi baru akan mengancam pekerjaan dan memiliki dampak buruk terhadap pasar tenaga kerja, atau justru akan menciptakan masa depan yang lebih baik dan lebih cerah bagi semua orang dengan mengeliminasi pekerjaan-pekerjaan yang monoton dan menghasilkan ragam pekerjaan yang lebih baik dan lebih menarik?
Aspirasi seputar karier saat ini telah berubah total. Lima belas tahun yang lalu, perusahaan-perusahaan besar merupakan tujuan utama yang paling bergengsi bagi para lulusan, namun kini mereka kehilangan daya tariknya bagi banyak talenta muda. Kini, banyak orang yang ingin membangun karier dengan cara mereka sendiri.
Kurangnya lapangan pekerjaan bagi lulusan sarjana di Inggris dan pengangguran yang dialami oleh para lulusan universitas telah dikecam selama bertahun-tahun. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualifikasi yang berlebihan telah mencapai titik jenuh, dengan dampak yang menyedihkan bagi perekonomian Inggris.
Apakah Anda siap untuk menghadapi tantangan pasar tenaga kerja global yang menanti di hadapan Anda? Ataukah perusahaan Anda siap? Laporan Masa Depan Pekerjaan dari Forum Ekonomi Dunia menyoroti gangguan yang meluas di pasar tenaga kerja yang akan disebabkan oleh perkembangan di berbagai bidang seperti kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, genetika, dan teknologi nano. Laporan tersebut menemukan bahwa "disrupsi teknologi berinteraksi dengan faktor sosio-ekonomi, geopolitik, dan demografi untuk menciptakan badai yang hebat di bursa tenaga kerja dalam lima tahun ke depan".
Dengan meningkatnya angka pengangguran global, solusi yang efektif untuk menghubungkan para pekerja dengan pekerjaan dan proyek yang tepat telah menjadi isu yang mendesak. Laporan terbaru dari McKinsey Global Institute menemukan bahwa platform pekerjaan atau talenta online menawarkan potensi yang sangat besar untuk memerangi pengangguran dan meningkatkan produktivitas pasar tenaga kerja, mengingat platform ini siap untuk memenuhi permintaan pasar kerja yang semakin kompleks dan internasional saat ini.
A recent report, which is the culmination of a leadership event featuring Ernst & Young, the Royal Bank of Canada, and guided by Dr. Mahzarin Banaji, Harvard University professor of leadership diversity, highlights diversity and its support within organizations. The piece seeks to comment on the failure of organizations to effectively implement policies directed at diversifying staff, and promoting inclusion generally. According to Dr Banaji, diversity is so essential because it allows for the creation of a strong team which can perform better under pressure and in different circumstances. She also states that diversity makes way for dynamic problem-solving, and better decision-making, leading to a better success rate overall.
Lloyd Shapley and Alvin Roth received the Nobel Prize in economics 2012 (link in german) for their “theory of stable allocations and the practice of market design” (link in german). The approach used by the two Americans is primarily based on of the appropriate matching of agents in areas which exceed the limitations of traditional market mechanisms (link in german), e.g. when students are trying to find their ideal university, and vice versa. A key statement from the Nobel Prize-winning work is that the matching, i.e. the overlap in interests and requirements, must always be as large as possible. The relevance of these insights to the modern labour market is confirmed by a recently published report from the European Central Bank (ECB).
The Institute for the Future (IFTF) has recently published a study about the most important work skills for the future. Yet, those who expect to find a guideline will be disappointed. Due to the rapidly changing demands of the labor market, the study has found that foresight and adaptability will be the key to success. The top ten skills for 2020 listed by the IFTF therefore contain abilities like “sense-making”, “transdisciplinarity” or “novel and adaptive thinking” (see graphic below). What sound like the predictions of a horoscope, which will prove true no matter what, is actually symptomatic of the driving forces behind the increasingly automatized and interconnected work force.
Dr. Chia-Jung Tsay (UCL School of Management) studies the psychological influences on decision making and interpersonal perception, and how expertise and biases affect professional selection and advancement. Dr. Tsay’s work has been published in leading academic journals and featured in media outlets including the BBC, Economist, Harvard Business Review, Nature, and NPR, and in television programs, radio stations, and newspapers across 48 countries. For us, she answered three questions regarding her latest work titled “Naturals and strivers: Preferences and beliefs about sources of achievement”.
Tautan terkait
Ikuti kami!
Artikel terbaru
Buletin JANZZ.jobs akan terus memberi Anda informasi terbaru secara berkala mengenai fitur-fitur baru yang menarik serta berita-berita terkini.